Breaking News

2018, 11 Desa Tak Cairkan Dana Desa Tahap dua dan Tiga

Suarakerinci.com, KERINCI-Di tahun 2018 ada sebanyak 11 desa di Kabupaten Kerinci tak menikmati Dana Desa yang dananya bersumber dari APBN, lantaran Pemerintah desa tersebut tidak melakukan pencairan dana desa tahap dua dan tiga.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD)  Kabupaten Kerinci, Hasferi Akmal melalui Kasi Bina Keuangan Desa, Rusved Riyadi membenarkan adanya 11 desa dalam Kabupaten Kerinci yang tidak mencairkan dana desa tahap dua dan tiga.

"Untuk 2018 lalu ada 11 desa yang tidak melakukan pencarian dana desa yakni tahap 2 dan 3," ungkapnya.

Ke 11 desa tersebut, lanjutnya yakni Koto Tuo Kecamatan Kayu Aro, Sanggaran Agung Kecamatan Danau Kerinci, Desa Balai Kecamatan Air Hangat. Seterusnya Dusun Baru Pulau Tengah, Permai Baru, Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau.

Selanjutnya desa Baru Sungai Deras, Desa Baru Kubang, Kayu Aho Mangkak, Kubang Agung Kecamatan Depati Tujuh dan desa Lolo Kecil Kecamatan Bukit Kerman.

"Biasanya desa yang tidak melakukan pencairan dana desanya, dikarenakan adanya permasalahan interent pemdes," sebutnya.

Tidak dicairkan dana desa tersebut tentunya memberiian berdampak pada pencairan dana desa tahun berikutnya. Seperti tidak bisa melakukan pencairan tahap dua dan tiga.

"Sanksi pusat yang menentukan, contoh pada 2017 yang tidak melakukan pencarian hanya bisa mencairkan tahap satu saja,  pembangunan di desa menjadi terhambat,"sebutnya.

Meski demikian, ditambahkannya permasalahan tersebut tidak berpengaruh pada dana desa secara umum di kerinci. Karena pada 2019 dana desa yang masuk ke kerinci mengalami kenaikan dari 2019. Yakni sebesar Rp 212 miliar lebih dimana pada 2018 sebesar Rp 189 miliar lebih.

"Untuk 2019 dana desa kita ada kenaikan dari 2018. Rata-rata setiap desa menarima Rp 700 juta lebih. Ada beberapa yang menerima di atas Rp 800 juta. Yang paling besar yakni desa Tamia Rp 899 juta lebih dan paling rendah ada lima desa yang menerima Rp 600 juta," jelasnya.(per)

Ilustrasi Dana Desa